Jumat, 25 Mei 2012

Selayang Pandang Negeri Madiba

Kawan-kawan, mungkin kata apartheid dan Afrika Selatan tidak asing lagi bagi kita. Kata ini mulai banyak dibicarakan pada era 1970an. Kata ini merujuk pada model kepemimpinan yang membedakan ras atau warna kulit dengan makna negatif yang terkandung didalamnya. Apartheid  kian menjadi popular tahun 1994 dan tahun-tahun berikutnya; setelah perjuangan untuk menentang model kepemimpinan ini berhasil dilakukan. Perjuangan ini dipelopori oleh Nelson Mandela yang kemudian menjadi Presiden pada pemilu tahun 1994. Tapi, saya tidak akan banyak bercerita dan melanjutkan sejarah Negeri Pelangi ini, karena saya bukanlah seorang sejarahwan. Yang saya ingin berbagi disini adalah apa yang saya lihat, rasakan dan nikmati pada perjalanan awal May tahun ini ke Negeri Madiba (Madiba adalah panggilan khusus rakyat Afrika Selatan untuk Nelson Mandela). Karena setiap perjalanan pasti mempunyai catatan dan pelajaran untuk dibawa ke negeri sendiri.

Perjalanan saya ke Republik Afrika Selatan adalah untuk mengikuti International Workshop Reunite-Retreat-Reflect yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Climate Leadership Program (CLP) yang dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft fuer Internationale Zusammenarbeit (GIZ German), CCROM-SEAP Institut Pertanian Bogor (IPB Indonesia) dan University of the Witwatersrand South Africa. Tentang program keren ini, saya akan bercerita di lain kesempatan.

Bertolak dari Soekarno Hatta Int’l Airport, saya menuju ke OR Tambo Int’l Airport melalui Doha Int’l Airport di Qatar. Tak lama waktu yang saya tempuh untuk mencapai Johannesburg (Joburg), hanya  tujuh belas jam; sudah termasuk waktu menikmati indahnya bandara Doha Int’l; transit. Ditemani Padang Bulan Andrea Hirata dan alunan musik yang tersedia di pesawat (saya sedikit kurang puas, karena pesawat ini tidak ada musik dangdut) plus doa keselamatan akhirnya Alhamdulillah saya mendarat mulus di OR Tambo Int’l Airport yang berada di sebuah kota yang paling berdenyut di Afrika Selatan; Joburg. Yup, seperti biasanya memasuki Negara orang, pastinya kita akan dimintai keterangan yang berurusan dengan keimigrasian. Dan satu kata untuk hal itu; lancar.

Namun, yang terjadi selanjutnya adalah kejadian lucu yang mungkin akan terpatri di dalam hati saya untuk beberapa waktu yang sangat lama. Sambil menunggu koper keluar dari tempat persembunyiannya, beberapa teman dari Indonesia dan saya bercengkrama ria mengenai falsafah hidup. Yang kemudian, cengkrama kami diusik oleh seekor anjing dan tuannya (petugas bandara). Dengan senang hati kami menerima usiknya mereka berdua; karena mereka sama sekali tak punya alasan untuk mengintegorasi kami mengenai apa yang ada dalam tas ransel dan tas tangan kami. Dan keduanya melenggang kangkung diikuti senyum lebar saya dan juga teman-teman. Hanya berselang lima menit, anjing kecil nan lucu itu kembali memberikan endusannya, tak tanggung-tanggung, langsung menyapa manis ke ransel saya. Dan serta merta, majikannya pun penasaran, apalagi saya; luar biasa penasaran (sambil bertanya dalam hati, apakah Ibu saya memasukkan daging rendang atau dendeng kedalam ransel besar itu?) Petugas bandara tersebut melebarkan senyum dan meminta saya untuk membuka ransel hitam manis saya. Bagaikan tertuduh tapi tak berbuat jahat, langsung dengan semangat saya membuka ransel yang isinya kraker, biscuit, keurupuk mulieng belum diolah (emping), dan tiga bungkus bubuk kopi Solong (ukuran ¼ kg) dan tentu beberapa benda yang tak penting tapi sangat ingin saya bawa serta. Dan kebenaran ada dipihak saya, bahwa saya tidak sedang membawa daging-daging dan sesuatu yang melanggar aturan perjalanan keluar negeri (misalnya narkoba, uang hasil korupsi dan lainnya). Tapi, anjing itu sangat bersikeras, dia sangat suka dengan isi ransel saya. Kejadian ini berakhir dengan majikan yang menarik keras anjingnya untuk menjauhi ransel saya dan seringai tawa dari teman-teman Indonesia. Baru-baru ini saya mengetahui bahwa anjing sangat sensetif dengan bau kopi. Jadi, beruntungnya saya adalah bubuk kopi Solong dibungkus dengan plastic transparan yang dengan langsung bisa dilihat oleh petugas bandara, tanpa harus membuka dan mengeluarkan bubuk kopi tersebut. Terima kasih Solong!

Berada di Negara yang dulu selalu disebut-sebut dalam buku Sejarah SD hingga SMA, membuat saya terlalu bersemangat. Meski udara awal musim dingin mulai menyapa yang merupakan pertanda kurang baik bagi saya yang berasal dari Negara tropis. Semangat itu tetap membara, apalagi membayangkan hidangan makanan penuh cita rasa; undangan makan malam dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Afrika Selatan di Pretoria. Betapa bersyukur menjadi seorang yang hidup di daratan yang mempunyai hasil alam berlimpah dengan ragam rempah yang luar biasa.

Hanya semalam menginap di Joburg, esok hari kami dengan rombongan besar (Indonesian, South African, dan Germany) menuju ke Rustenburg (tempat berlangsungnya workshop yang saya sebutkan sebelumnya, sekitar dua jam tiga puluh menit dari Joburg). Perjalanan menuju Rustenburg, diselingi dengan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah di Joburg. Kami mengelilingi kota Joburg dengan tiga orang pemandu yang merupakan para penggiat dari komunitas Fietas. Fietas adalah nama sebuah tempat; yaitu tempat berkumpulnya ras kulit berwarna, Malay, Indian sebelum tahun 1970an. Namun, setelah tahun tersebut, masyarakat yang beragam warna kulitnya kemudian direlokasikan ke tempat yang jauh karena adanya kebijakan apartheid. Memanglah, membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya adalah hal yang sangat menyedihkan (tak banyak cerita yang ingin saya bagi untuk hal ini, terlalu sedih).

Selanjutnya adalah pemandangan beberapa mesjid di Negara yang mempunyai populasi penganut agama Islam sebesar kurang lebih dua persen. Mesjid yang terekam di otak saya adalah Mesjid Ahmadiyah dan Mesjid Hanafi. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang keduanya, karena kami hanya berlalu pandang didepan mereka. Ada yang membuat saya sangat antusias di kota Joburg ini, yaitu melihat tempat pemakaman umum; benar-benar umum, mendapatkan semua ras ada di pemakaman ini adalah hal yang luar biasa; Muslim, China, India, Yahudi, Nasrani dan lainnya). Ada satu makam seorang Muslim yang terlihat sangat anggun; beliau adalah seorang ulama yang menyebarkan Islam di Afrika dan diyakini berasal dari tanah Melayu, saya hanya mengingat nama akhirnya; Ja’far. Semoga Allah selalu memberkati beliau. Amiiin.

Tenaga untuk menjelajah Joburg masih banyak, semangat untuk mengambil hikmah disetiap langkah berjalan masih tinggi. Tujuan selanjutnya adalah Cradle of Humankind di Maropeng, salah satu bagiannya adalah Gua Sterkfontein. Tempat ini telah disahkan sebagai salah satu Warisan Dunia pada tanggal 2 Desember 1999 oleh UNESCO karena kekhasan lahannya yang mengandung sangat banyak fossil dan artifak masa lampau. Ditempat inilah, para peneliti ilmiah meyakini bahwa nenek moyang manusia berasal. Kalau kita ke Aceh Tengah, disungguhi dengan cerita Puteri Pukes dan juga Loyang Koro, maka disini suguhan ceritanya adalah tentang penemuan ilmiah manusia pertama di bumi (ini adalah katanya ilmuwan, bukan kata saya). Ada satu peringatan yang selalu dilantunkan oleh pemandu, “tetaplah berada dekat dengan saya, karena jika tidak, anda akan tersesat dan akan ditemukan setelah empat ratus tahun kemudian”. Angka tersebut cukup membuat seseorang menjadi fosil yang kemudian akan diumumkan sebagai manusia yang pertama yang tersesat di gua tersebut. Saat itu, saya berpikir hanya ingin cepat keluar karena sama sekali tidak nyaman didalam gua yang gelap meski sangat indah dengan pemandangan stalaktit dan stalaknit dan juga danau yang berkedalaman empat puluh meter.

Berkunjung ke benua Afrika, tak lengkap rasanya jika tidak menikmati alam liar dengan melihat langsung kegiatan sehari-hari para binatang. Dan Taman Nasional Pilanesberg (TN Pilanesberg) adalah tujuan untuk memenuhi kesempatan bersafari ria. TN ini dulunya adalah tanah pertanian milik masyarakat yang kemudian diubah menjadi TN yang dilatarbelakangi oleh alasan wisata alam. Sebelum dijadikan TN, adalah proses yang sangat panjang menyertai kelahirannya. Proses dan tantangan menjadi dua hal yang menarik bagi saya yang hidup disebuah Negara yang mempunyai beberapa TN. Misalnya, ada proses tawar-menawar dengan masyarakat setempat yang berakhir baik, juga penelitian yang komprehensif tentang tumbuhan apa saja dan jumlahnya berapa untuk bisa memenuhi kebutuhan binatang yang akan menghuni TN tersebut. Mungkin, ada baiknya Pengelola Taman Nasional di Aceh sesekali berkunjung ke Afrika Selatan untuk mengambil beberapa pelajaran yang bisa dibawa pulang dan dikembangkan (ini hanya sekedar saran dari seorang naif seperti saya).

Yup, sekian cerita saya tentang selayang pandang Afrika Selatan. Suatu waktu di depan, saya akan kembali kesana. Maafkan si naif ini, lama tak menulis ternyata menyebabkan tulisan ini hancur, kehilangan arah dan gamang. Pahami saja yang bisa dipahami.

Dengan penuh cinta,


Dara Adila :D

Senin, 25 Juli 2011

Anak itu Masih Berjuang


Di posting kembali dari catatan yang lalu. :)

Warna kulit anak itu gelap karena cahaya matahari dan hembusan sang bayu sangat suka padanya. Dia duduk dipinggir jalan di sebuah sudut kota terus berusaha untuk meraih rezeki yang telah Allah tentukan untuknya. Ribuan kali kendaraan lewat menjadi saksi bahwa dia memang disana, tegar dengan segala gaya kekanak-kanakannya dalam mencari rezeki. Aku tak tahu apakah dia bersekolah atau tidak, apakah dia mengaji di TPA atau tidak. Tapi, satu yang selalu tersurat adalah dia ada disana sepanjang hari, ketika bintang besar naik dipagi hari hingga sang bintang bertugas kebelahan bumi lain.

Berjualan dengan muka berpancarkan cahaya kesabaran, dia meniti hari dengan menghitung setiap nominal Rupiah yang dia dapatkan. Apakah cukup untuk sehari ini atau bisa disimpan untuk kehidupan besok. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya dan bukan keinginannya karena dia tidak tahu tentang keinginan selain memenuhi apa yang diperlukan keluarganya. Aku tak tahu berapa jumlah adik, abang atau kakaknya. Dan aku juga tidak tahu apakah mereka melakukan hal yang sama atau tidak. Yang sangat jelas adalah mungkin dia dan anggota keluarganya yang lain setiap harinya berusaha dengan mengeluarkan keringat yang tetesannya mengeluarkan pahala yang tak terhingga.

Melirik kesana, memainkan tangan ala anak umur sepuluh tahunan adalah hal yang sangat membahagiakan menurutnya sambil menunggu pelanggan yang kurang setia dengan apa yang dia perdagangkan. Terkadang dia melihat sekeliling, terkadang mukanya terlihat penuh penantian, penantian untuk mendapatkan rezeki yang bentuknya uang. Uang yang bisa memenuhi keinginannya untuk memberikan kebutuhan buat keluarganya.

Matanya selalu senang melihat seragam anak-anak yang keluar ke sekolah. Mata itu bahagia melihat hal, benar bahagia, sangat bahagia. Aku tahu, dia sangat menginginkan lagi seragam itu, dia pernah punya seragam itu. Tapi aku tidak tahu, apakah dia akan memakai seragam itu lagi atau tidak.

Menurutnya kehidupan itu adalah anugerah, harus disyukuri. Aku tak tahu apakah dia benar ingin melakukan semua hal diatas atau memang karena keterpaksaan. Sama sekali aku tak tahu. Aku hanya melihat dari jauh, sangat jauh. Satu hal yang sangat nyata adalah dia harus melakukan itu. Aku tidak yakin orang tuanya memaksanya, karena semua orang tua didunia ini menginginkan anaknya bahagia. Tapi, benar, aku sangat jauh untuk mengetahui itu semua.

Dan sebuah kenyataan lain adalah dia tidak hanya sendiri dalam hal ini, dia mempunyai jutaan kawan didunia ini. Jutaan kawannya juga mempunyai kegiatan yang sama. Berusaha untuk kehidupannya, berjuang untuk setiap detik yang mereka lewati dan meraih bahagia dalam setiap kesedihan, kekesalan, kemarahan dan juga kelelahan untuk semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh manusia dewasa.

Dia masih tetap semangat, hingga dia bisa meyakinkan dirinya bahwa dia telah bisa menaklukan hidup ini. Matanya memiliki sorotan yang membuat hati setiap yang memandang akan merasakan apa yang dia pikirkan. Setiap gerakannya meyakinkan aku bahwa dia bahagia dengan hidupnya, karena dia tak pernah berharap selain pada Allah, Si Maha Penyebar Rezeki.

Teruntuk khusus:

Dua anak yang sangat menyentuh hatiku, kalian sangat tegar!!!!

Kalian benar-benar bekerja untuk menyayangi orang tua, meski orang tua kalian tak berdaya membahagiakan seperti yang dirasakan anak-anak lain, tapi kalian membuktikan bahwa setiap manusia harus menyayangi orang tuanya meski orang tuanya tidak pernah berbuat/memberikan sesuatu untuk kehidupannya.

Sedang terharu........

Dara

Sabtu, 12 Februari 2011

Sepenggal kisah tentang para Ibu

Diposkan kembali setelah tanggal 25 September 2010

Mencetak bata, ceumacah (menginjak-injak tanah untuk proses menanam padi), menjahit, menyapu jalan, berjualan di kios, berjualan di kaki lima, laundry women(bukan pakai mesin cuci tapi pakai tangan tangguh mereka), menjadi assistant koki di warung makan, mengajar di sekolah adalah deretan pekerjaan para Ibu tangguh ini. Sendiri, sendiri mereka berusaha dengan sepenuh hati untuk menghidupi anak-anak mereka. Mereka bekerja bukan untuk dianggap setara dengan laki-laki, sama sekali bukan, mereka bekerja murni untuk anak-anak dan keluarga. Mereka juga bekerja bukan untuk sederetan merk make-up , TIDAK, sama sekali tak pernah terlihat bedak dipermukaan kulit yang menampakkan daya tarik yang menua. Mereka bekerja juga bukan untuk mengumpulkan kekayaan, tapi hanya untuk mencukupi makanan dan pendidikan tanggungannya.

Yang sangat menarik adalah pendidikan anak-anak mereka. Curahan terbesar yang para Ibu ini berikan adalah memperhatikan pendidikan bagi calon-calon pemimpin bangsa ini. Dengan Rp. 40 per bata yang dia cetak, dia harus membiayai empat anaknya. Memang, tak mahal biayanya menempuh pendidikan di sekolah negeri. Tapi, apakah baju, buku, transportasi sekolah akan membiayai juga? Sama sekali tidak. Ibu inilah yang menanggung semuanya. Calon-calon pemimpin bangsa ini berada di tangan seorang Ibu yang selalu memegang, mengangkut dan mencetak tanah liat yang akan dijadikan bata. Meskipun tak sampai jadi pemimpin bangsa, paling tidak, jadi pemimpin di masyarakatnya. Karena sangat jelas, pemimpin bangsa telah diambil alih orang lain yang sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya menjadi memimpin.

Mereka selalu bersyukur, hal itu yang membuat hati merasa sangat terharu. Tak pernah mengeluh, selalu positif dalam setiap tindakan. Tak pernah menyerah dalam menantang hidup, tapi selalu merendah dalam meminta pada Sang Pencipta. Sekeras apapun cobaan yang mereka terima, selalu mereka tersenyum, malah air mata adalah hal yang langka dalam hidup mereka. Jika perempuan terkenal dengan sifat cengengnya, maka sifat ini tidak berlaku bagi mereka, tapi hal ini bukan berarti mereka bukan perempuan sejati! Sejatinya, mereka adalah pejuang perempuan yang sangat-sangat bekerja keras untuk anak-anak mereka.

Sebelum saya lupa, saya mau memberitahu bahwa mereka bekerja bukan karena suami mereka tidak ada pekerjaan, tapi karena suami mereka telah kembali ke pangkuan Rabb. Tak terbesit pun dalam perasaan mereka untuk menikah lagi, bukan karena tidak ada yang mau, tapi karena mereka yakin mereka bisa melalui hidup sendiri. Melalui hidup dengan menghidupi anak-anaknya, bekerja dengan ikhlas untuk keluarganya. Mereka yakin bisa menjadi sosok Ibu yang lembut seperti layaknya Ibu yang ada di seluruh penjuru dunia, tapi mereka juga bisa menjadi Ibu tangguh untuk mencoba menggantikan kehadiran suaminya. Sekali lagi, bukan untuk menjadi Ayah bagi anak-anak mereka tapi mencoba menjadi tangguh agar suasana tegar meliputi keluarganya.

Semoga semangat mereka menular ke kita!

Tak ada yang dapat menandingi keindahan langit pagi dan sore kecuali pelukan seorang Ibu dan tangisan anak bayi

Dara

Autumn in Seulawah

(Mari menjaga lingkungan kita, jika bukan kita siapa lagi? Mau mengharap pemerintah, No Way!)

Perjalanan pekan lalu banyak menyimpan cerita, ya seperti perjalanan-perjalanan yang pernah dilakukan orang-orang sekaliber Ibnu Batutta. Tapi, saya adalah orang biasa yang hanya tahu mencatat apa yang saya lihat dan catatan kali ini adalah hasil pengamatan dalam perjalanan yang sangat melelahkan itu.

Pernah melihat bagaimana kondisi pepohonan di musim gugur? Tidak pernah, saya juga belum pernah. Ya, saya tahu kita hidup di negara yang hanya punya dua musim dan musim gugur tidak termasuk salah satunya, ya saya tahu juga tidak semua kita yang berasal dari Indonesia ini pernah keluar negeri yang ada musim gugurnya. Ya, saya tahu juga kalau mayoritas dari kita pernah melihat gambar atau rekaman tentang bagaimana kondisi pepohonan pada musim gugur. Ya, saya juga tahu kalau beberapa dari kita tidak pernah melihatnya. Bagi yang belum pernah melihatnya, tenang saja, saya akan melampirkannya bersama catatan ini.

Ketika membuka kumpulan lembaran coretan saya, saya menemukan kata-kata autumn in Seulawah. Sejak kapan ada musim gugur di Seulawah? Tapi, musim gugur di Seulawah berbeda, menurut saya sangat eksotis dan juga miris! Jika kita melihat pemandangan di gambar musim gugur, pepohonannya hanya menggugurkan daun yang menjadi miliknya tapi dia masih terlihat hidup. Berbeda dengan musim gugurdi Seulawah, para pohon ini terkesan menggugurkan daunnya atau dipaksakanmenggugurkan daunnya dan terlihat mati, meskipun tidak mati, dia terlihat seperti sedang sakaratul maut dan akan mati dalam hitungan hari atau jam. Saya yakin kalian pernah melihat kondisi pohon disepanjang jalan Seulawah kan? Mereka itu Pohon kering plus asap-asap yang menari-nari disekitarnya. Tak ada harapan hidup saya pikir.

Jika di luar sana musim gugur disebabkan karena proses pergantian musim atau rotasi bumi, maka di Seulawah terjadi karena ulah makhluk yang namanya manusia serakah. Betapa tidak, pepohonan yang seharusnya menjadi pelindung alam namun saat ini mereka hanya bisa meninggalkan jasad yang sebentar lagi akan dieksekusikan juga oleh makhluk yang bernama manusia sedikit serakah. Pohon itu makhluk hidup lho! Kenapa mereka yang bertugas melindungi manusia dari bencana harus diperlakukan seperti ini. Daun yang lebat digugurkan secara paksa! Pohon itu tidak juga egois lho! Ribuan makhluk hidup mencari nafkah di sebatang pohon besar.

Bagaimana temperature dikala musim gugur? Maaf, saya sendiri tidak pernah merasakan bagaimana itu. Tapi, saya pernah merasakan bagaimana musim gugur yang terjadi di Seulawah, panas, penuh asap, terkadang masih terlihat ada sedikit api, terkadang seram dan sepertinya banyak mata dibalik semua itu yang membuat adrenalin meningkat.

Mungkin kecintaan kita terhadap pohon tidak seperti cinta nenek moyang kita dahulu. Pohon adalah lambang kesejahteraan dan kemakmuran bagi mereka. Mungkin kita akan mengatakan hal yang sama tapi dengan sedikit rasa egois bahwa kesejahteraan dan kemakmuran bagi manusia serakah itu sendiri dan tidak untuk lingkungan.

Jika autumn di negeri orang sangat indah, maka di negeri tercinta ini dan tepatnya dibumi Seuramoe ini autumn tidak lain hanyalah matinya pepohonan di hutan yang menjadi salah satu hutan lindung yang berfungsi tentu saja sebagai pelindung berbagai makhluk bukan sebagai tempat latihan militer atau program investasi tanaman sawit atau pisang yang salah tempat!

Ini hanyalah catatan, semoga tidak ada yang protes, maaf saya bukan pejabat

Salam Pohon

:)

Siarê Brêuh (sebambu beras) di depan Pendopo Nanggroe

Tulisan ini dipos kembali setelah diposkan pada tanggal 6 Juni 2010.


Sungguh hari ini kami mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, yah pelajaran itu pelajaran bersyukur. Rasanya apa yang kami lihat hari ini adalah fiksi belaka atau pun hanya mimpi yang lewat begitu saja ketika kami terlelap. Namun, sejatinya apa yang kami saksikan dengan mata kepala adalah kenyataan yang memilukan bukan khayalan belaka. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca dan tetaplah asah rasa syukurmu kepada Allah di setiap saat, apapun kondisinya, jangan pernah menghujat Allah untuk segera memberikanmu kesenangan. Terkadang kesusahan itu lebih baik untuk mu dari pada kesenangan. Allah sangat tahu kapan memberikan senang dan susah. Usaha dan bersyukur.

Pada tanggal 5 Juni, Sabtu sore sekitar pukul 18.50pm, kami masih dalam perjalanan menuju ke Ule Lheu dan melewati Jl. STA Mansyursyah, butiran air yang jatuh dari awan juga menyertai perjalanan kami hari ini. Walaupun cuaca tidak mau bersahabat hari ini (tidak mau bersahabat menurut manusia, padahal cuaca hari ini adalah Rahmat bagi MakhlukNya), kami tetap melanjutkan perjalanan yang penuh hikmah ini. Tapi, perjalanan kami sempat terhenti karena ada pemandangan yang sangat memilukan. Pemandangan ini tidak pernah terlintas di pikiran kami sebelumnya. Kami berpikir bahwa kami tidak akan pernah melihat pemandangan ini di Nanggroe para Pejuang ini. Mungkin, pemandangan ini tidak hanya terjadi sekali ini saja, mungkin berkali-kali terjadi diberbagai pelosok Nanggoe Iskandar ini.

Tepat didepan gerbang Pendopo Nanggoe, kami menghentikan keledai Hoja (sebutan untuk motor butut kesayangan kami) dengan mendadak karena melihat seorang anak laki-laki yang lagi berusaha untuk mengutip kembali beras yang tumpah dari kantong plastiknya di atas aspal hitam. Menurut taksiran, anak laki-laki itu masih berumur 12-an tahun, dengan sabar ia mengutip kembali beras yang tumpah itu dalam derasan air hujan. Tiba-tiba ada dua laki-laki yang menghampirinya dan membantu mengutip berasnya yang tumpah itu. Karena rasa iba yang tak tertahankan, kami juga menghampiri bocah itu. Kami bertanya, “kenapa dek?” dan dua laki-laki langsung bercerita - di samping bocah tadi asyik mengumpul berasnya -“ adek ini tadi diserempet mobil dan terjatuh dan mobil itu berlalu begitu saja” (ya iyalah, pasti mobil itu pakai kaca hitam dan tertutup semua sampai tidak melihat keadaan disekitarnya, kebanyakan moto pengendara mobil adalah jalan ini milik nek Tu aku / jalan milik nenek moyangnya), tragis. Seketika, hati kami sangat teriris karena kejadian tersebut berlokasikan di Pendopo Nanggroe yang mungkin para penghuninya sedang bermesraan dengan kehangatan Istana sedangkan diluarnya ada bocah yang kedinginan dan mengutip beras per beras. Sangat ironis. Plastik yang berisikan beras itu telah rusak dan robek, tapi anak itu masih memasukkan hasil jerih payahnya kedalam plastic tersebut. Melihat itu, kami memberikan plastic yang kami gunakan untuk melindungi tas kami. Paling tidak, dengan plastic itu dia bisa membawa pulang sisa-sisa hasil perjuangannya hari ini. Dua pria tadi memberikan makanan yang mereka bawa kepada anak itu dan karena terburu-buru mereka segera pergi dengan memegang tangan anak itu (tentu saja dengan uang besertanya). Ya, kemudian hanya kami bertiga berada disana dan setelah berbicara sebentar dia segera mendayung sepeda tuanya. “Tinggal dimana dek? “Dibelakang Taman Budaya kak! Dan diapun pergi meninggalkan kami, sedangkan kami harus berusaha menghidupkan Keledai Hoja yang tidak mau lagi di-starter tapi harus di-engkol. Kamipun melesat dan terakhir kami melihat ada seorang pemuda yang menghampiri anak tersebut dan bertanya “Kenapa dek? Dan kami tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan pembicaraan mereka. Yang jelas, sang pemuda itu ingin membantu.

Betapa dilematis keadaan Nanggroe ini, di depan kediaman sang Pemimpin Nanggroe nan megah masih ada anak umur 12 yang mengutip beras gengam per gengam di bawah tetesan-tetesan Rahmat Allah. Anak itu tidak peduli beras itu basah atau tidak, yang penting harus diambil lagi meski telah jatuh di badan jalan yang bersejarah itu. Toh hanya siare (satu bambu) sampai kerumah juga akan dicuci dan langsung ditanak oleh ibunya (itupun jika dia masih punya ibu atau orang tuanya) karena mungkin dia menjemput rezekinya yang hanya cukup makan dua kali sehari.

Senja yang penuh Rahmat itu (baca: hujan) menjadi saksi bahwa kondisi Nanggroe tercinta ini masih sangat lemah untuk melindungi kaum lemah. Anak yang berprofesi penjahit sepatu(dilehernya ada kotak kayu yang digunakan sebagai alat untuk menjahit) itu menjadi bagian yang akan sangat menyedihkan dalam perjalanan Nanggoe ini (meskipun masih sangat banyak kesedihan-kesedihan lainnya yang belum bisa dihilangkan dengan beberapa kesenangan yang diberikan Nanggroe).

Kami hanya ingin berbagi cerita.

Oleh Dara dan Nabila

Kamis, 29 April 2010

This is Home


Salam,

Home sweet home. This phrase has beautiful meaning. Home means your soul, life and memories. No matters are bad or good life going on within. Home still sweet whatever its condition.
You find love inside home and spread it outside. Sometime misery comes to you and you can not coping by yourself, you need home as your place to come back in. You need love that produce in anytime by your home, home made. This is home. Place where you growth and shared your memories. The place where you find brotherhood and sisterhood.
Sometimes you go far away from your home, but it makes suffer. Truly place of your own is your home. It is like Swicthfoot's song, "This is home, Now I'm finally, Where I belong, Where I belong, Yeah, this is home I've been searching, For a place of my own, Now I've found it, Maybe this is home ,Yeah, this is home"
You can find the best cook in this place, your mother. Also, the best trainer whole life, your father. You are the trainee of this life. Yeah, home is where you belong to.
Go far away from your home, but never run from its memories. Keep in deep inside of your heart. This is your home. Place where you can cry, laugh, angry, sad, happy and whatever your feel is.


With Love,

Dara

Minggu, 25 April 2010

Exotic Sabang




Pada tanggal 16 April 2010 bertepatan dengan hari Jumat, bersama kawan-kawan di kantor saya menuju ke Sabang. Berangkat dari Pelabuhan Ule Lheu dengan kapal cepat yang memang sangat cepat. Tidak terasa sudah sampai ke Pelabuhan Balohan hanya dalam waktu 40 menit. Tapi, kurang romantis jika naik kapal cepat ini karena tidak leluasa menikmati lautan yang indah.
Kata-kata yang keluar dari mulut ketika pertama menginjakkan kaki di tanah Sabang adalah Subhanallah! Wow, pulau yang indah! Perjalanan kami lanjutkan ke tempat yang akan kami jadikan base kami yaitu ke Gapang, sekitar 60 menit dari Pelabuhan Balohan. Jalan menuju kesana sedikit lebih terjal daripada jalan di Seulawah. Tapi, perjalanan di Takengon menduduki peringkat nomor satu dari pada yang lain (referensi dari Dara Adila yang pernah menakluki jalan-jalan di Takengon) ;). Perjalanan ini pun sangat berkesan, ribuan pemandangan indah mencuci mata saya yang sedikit lelah dengan pemandangan di Banda Aceh. Setelah satu jam kami menempuh perjalanan yang menimbulkan ketegangan yang menyenangkan, kami sampai ke Gapang. Cottage yang kami tempati lumayan bagus dan nyaman untuk mengambil beberapa gambar bagus. Wah senangnya ;)
Keesokan harinya, kami melewati hari dengan duduk di ruangan untuk membahas agenda kerja. Lelah tapi menyenangkan. Sore hari kami melepaskan kepenatan dengan mengelilingi pantai Gapang. Beberapa kawan segera berlari menuju ke air laut yang sangat menggoda, tapi saya tidak karena takut air ;) . Banyak gambar yang saya ambil dari kecantikan alam Sang Sempurna. Senja pun memanggil dan kembali menuju ke Cottage untuk menghadapi Sang Sempurna.
Pagi Minggu, saya dan kawan-kawan mempunyai kesempatan menuju ke Zero Point of Indonesia (Titik Nol Kilo Meter). Again, Subhallah! Sangat indah. Hamparan Samudera Hindia menyambut kami dengan ikhlas. Saya sangat bangga bisa menginjakkan kaki di tanah yang menjadi titik paling ujung di Kepulauan Indonesia. Setelah menapakkan kaki di daratan paling ujung Indonesia ini, kami menuju ke Iboih, daratan yang sangat ramai di hari libur. Ketika kami sedang menikmati pemandangan pulau Rubiah yang ada di depan pantai Iboih, tiba-tiba seorang laki-laki mendatangi kami dan menawarkan jasa guide tour keliling setengah pulau Rubiah (tidak lucu kan setengah saja? Karena kalau keliling penuh pulau tersebut harganya mahal, hehehhe) dengan harga Rp. 150.000,- selama 30 menit plus pemandangan alam bawah laut yang keren sekali. Sangat puas dan benar-benar liburan yang sangat bermakna.
Dari Iboih kami menuju ke Kota Sabang untuk mencari makan siang sebelum menuju ke Pelabuhan kembali ke Banda Aceh. Jam 4 sore kapal akan berangkat dan sebelumnya kami menyempatkan diri untuk mengelilingi kota Sabang dan berhenti lama di Mesjid yang sangat indah, lagi lagi dan lagi sangat indah.
Jam 4 kami meninggalkan pulau yang selalu indah ini menuju kembali ke Banda Aceh yang menawarkan seribu satu kesibukan.

With Love,

Dara Adila